Ellen May Institute

Educational
Articles

Market Cenderung Melemah Jangan Panik!

Written by: Team Ellen May Institute | Updated At: 2019-09-16 20:38:54

Dirilisnya laporan mengenai Neraca Perdagangan pada bulan Juli 2019 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini (15/8/2019), yang alami defisit sebesar 63,5 juta dolar AS (month to month/mtm) atau 1,9 miliar dolar AS (year on year/yoy) membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) alami pelemahan.

Ditambah lagi, data Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal II-2019 berdasarkan data Bank Indonesia (BI), juga bertambah sebesar 10,1 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 8,1 persen (yoy).

Peningkatan ULN ini membuat rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir triwulan II-2019 berada pada angka 36,8 persen. Pelemahan juga tidak disebabkan oleh kondisi perekonomian domestik saja, faktor eksternal juga mempengaruhi. Seperti perang dagang antara AS dan Cina yang masih berlangsung hingga sekarang.

Jika sudah tahu penyebab market melemah, atau sedang bearish, para investor atau trader harus bertindak seperti apakah?

1. Kurangi Porsi Trading

Khususnya para trader yang telah membeli sejumlah saham. Ini keputusan yang tepat sekaligus mengatur emosionalmu.  

Pada tahun 2019, mulai Januari hingga April, pergerakan IHSG mengalami siklus penguatan atau kenaikan (bullish). Namun, penguatan ini ketika memasuki bulan Mei hingga kini, pergerakan IHSG cenderung melemah. Diperkirakan penurunan IHSG terjadi hingga September mendatang.

2. Tetap Kalem (Wait and See)

Terutama bagi investor, tetap tunggu sampai koreksi menyentuh level bottom (harga bawah alias harga support). Sedangkan untuk trader, saat IHSG alami penurunan tajam atau melemah pilihannya tidak terlalu banyak. Kalau pasar efek turun risikonya akan jauh lebih besar.

3. Atur Money Management

Ketika trading saham, peluang tidak sebanyak ketika market lagi bullish. Dan kebanyakan yang mengalami penguatan (breakout) adalah saham lapis dua dan lapis tiga atau saham yang likuiditasnya kecil.

Di mana tipikal saham tersebut gampang banget dibanting, dan juga gampang naik. Oleh karena itu, kuncinya ada pada money management dan risk management.

4. Jangan Beli Terlalu Banyak saat Bearish

Meski di saat bearish ada saja beberapa indikator dari sektor saham tidak begitu terpengaruh signifikan pada pelemahan IHSG. Contohnya saja, hari ini properti dan basic industry alami penguatan masing-masing sebesar 0,38 persen (properti) dan 1,10 persen (basic industry) namun tetap disarankan untuk tidak membeli terlalu banyak saham. 

Ketika alami kerugian saham, sebaiknya para trader langsung mengambil tindakan cutloss untuk mencegah kerugian lebih besar. Rebalancing portofoliomu setelah keadaan membaik, dan jual saham-saham yang tidak akan bertahan di situasi krisis.

Investor maupun trader tidak perlu panik ya ketika bearish dan tetap selalu belajar memperdalam ilmu investasi sahamnya. Tidak perlu merasa kapok dalam memilih investasi ini. Selamat berinvestasi saham.