Ellen May Institute

Blog By
Ellen May

Financial Freedom, the Freedom of Life

Written by: Ellen May | Updated At: 2019-09-16 20:37:42

Financial Freedom, the Freedom of Life

Kebebasan Finansial, Kebebasan Hidup

Ellen May, 18 Agustus 2019

 

“Kalau aku punya banyak uang, semua masalah itu pasti akan terselesaikan.

Seandainya saja aku punya uang lebih, aku tidak akan berlelah-lelah

kerja dari pagi sampai malam, aku bisa bermain dengan anakku semata wayang.

Seandainya aku punya uang lebih, istriku pasti akan lebih bahagia.

Seandainya aku punya uang lebih, aku bisa memberikan perawatan kesehatan yang

lebih baik untuk orang tuaku sehingga ia bisa lebih panjang umur.

Tapi apa daya… aku hanya orang biasa. Aku mau kebebasan

finansial! Aku mau bahagia.”

 

demikian curhat Sakti (bukan nama sebenarnya), seorang eksekutif muda yang memiliki posisi cukup tinggi di sebuah perusahaan multinasional. Penghasilannya bisa dibilang cukup lumayan, namun kenyataannya, hal itu tidak membuatnya merasa merdeka secara finansial.

Berbagai tantangan hidup, membuat orang terus mencari cara untuk menggapai kebebasan finansial.

Dua kata ini, “financial freedom”, sangatlah populer dan seringkali menjadi pancingan ampuh bagi berbagai pihak yang ingin melariskan produk finansialnya.

Masih dalam suasana memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74, saya pun penasaran dengan apa yang ada di benak banyak orang mengenai kebebasan finansial, atau yang populer dengan sebutan financial freedom ini.

Saya pun membuat sebuah kuis dan giveaway di Instagram. Jawaban dari berbagai pertanyaan tersebut bisa kita lihat di sini Instagram.com/ellenmay_official

 

Ternyata, sesuai dengan dugaan saya, masyarakat Indonesia sudah sangat cerdas dan paham betul dengan definisi dasar dari kebebasan finansial itu sendiri. Atau… mungkin saja keberadaan teknologi search engine yang membuat mereka menjawab begitu cepat dan tepat. Hehehe…

 

Ya… Financial freedom, menurut berbagai pakar ekonomi dan bisnis, seringkali diartikan sebagai kemampuan kita untuk memenuhi semua kebutuhan hidup, sesuai dengan gaya hidup kita masing-masing, dengan passive income alias tanpa harus bekerja.

Beberapa orang salah mengartikan bahwa orang yang sudah menggapai kebebasan finansial artinya tidak perlu bekerja. Padahal, tidak demikian. Kebebasan finansial memberikan kebebasan untuk tidak lagi harus bekerja.

 

Meski sudah mencapai kebebasan finansial, kita bisa tetap bekerja, karena pilihan, karena kita mencintai pekerjaan kita. Ada pula yang mengartikan bahwa kebebasan finansial artinya hidup tanpa hutang, dan kita bisa membeli apa pun, kapan pun dan di manapun.

 

Bahkan ada yang berkelakar, kebebasan finansial artinya hidup pas-pasan! Pas lagi perlu mobil pas ada uangnya, pas lagi kepengen jalan-jalan ke luar negeri pas ada uangnya, pas lagi kepengen beli rumah mewah pas ada rejeki. Ada-ada saja…

 

Jadi… apa sih sebenarnya financial freedom itu?

 

Meski sudah memenuhi kriteria / definisi dasar dari kebebasan finansial, yaitu bisa memenuhi kebutuhan dan gaya hidup dengan passive income / tanpa harus bekerja, nyatanya banyak orang masih belum merdeka seutuhnya.

 

Sebagai contoh, Sonny (bukan nama sebenarnya), meskipun ia sudah sangat kaya, bisa memenuhi gaya hidupnya yang glamor dengan passive income-nya, dan mempunyai banyak harta, namun ia tidak sepenuhnya mengalami kebebasan dalam hidupnya. Sebanyak apa pun uang yang ia hasilkan, dan juga gunakan, Sonny selalu ingin uang lebih banyak lagi, passive income lebih banyak lagi, dan juga tentunya, gaya hidup yang lebih glamor lagi. Sonny merasa tidak puas, dan ada selalu ada yang kurang.

 

Sebaliknya, ada pula Benny (bukan nama sebenarnya), yang berhemat luar biasa, dengan alasan… kalau nggak hemat, bagaimana bisa kaya? Bahkan, ketika passive income-nya sudah bisa digunakan untuk membiayai kehidupannya yang sangat-sangat sederhana, ia masih merasa sayang untuk menggunakan uangnya di luar kebutuhan pokok. Benny mengorbankan kehidupan sosial, mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri, dan lupa untuk bersenang-senang, dan tanpa sadar waktu terus berlari hingga akhir hidupnya, ia menyimpan uangnya dan tidak punya kehidupan yang seutuhnya.

 

Sonny dan Benny sama-sama merdeka finansial secara definitif. Namun mereka tidak benar-benar merdeka dalam hidupnya. Apa yang membuat mereka tidak bisa merdeka seutuhnya?

 

Jawabannya adalah karena insecurity.

Si super hemat (kata halus dari pelit), yang sudah mengalami “financial freedom” berhemat luar biasa, karena ia takut akan masa depannya. Karena ia merasa insecure.

Jangan-jangan, nanti di masa mendatang, perlu uang untuk kebutuhan kesehatan. Nanti jangan-jangan kalau tua sakit, nanti jangan-jangan suatu hari perlu uang besar. Nanti kalau penjualan sepi bagaimana? Nanti kalau ekonomi lagi susah bagaimana? Hidup kan naik turun, nanti kalau lagi ada masalah bagaimana? Siapa yang mau menolong? Siapa yang peduli? Hidupnya penuh dengan ketakutan.

Hemat luar biasa, adalah salah satu cara untuk bisa mengobati insecurity untuk sementara waktu. Seperti orang kena sakit kanker yang diberi parasetamol karena sedang demam.

 

Sebaliknya, si glamor, yang juga sudah mengalami “financial freedom”, membelanjakan uangnya dan terus mengejar harta, untuk menjadi bahagia dan fulfilled. Ia tidak bahagia mungkin karena masa lalunya, karena tidak memiliki kehidupan sosial, karena hubungan dengan pasangan dan keluarga tidak baik. Di dalam hatinya, ia menginginkan pengakuan, dan juga perasaan ingin diterima, ataupun dicintai.

 

Demikian ia membelanjakan uang dengan berlebihan, dan juga mengejar harta lebih dari segalanya. Karena memang, apa yang ia lakukan dengan uangnya, bisa memberikan rasa nyaman, dan kegembiraan sesaat, seperti seorang anak kecil yang sedang lapar, dan diberi makan gulali, dan bukannya makanan sehat.

 

Dua cerita di atas, hanyalah sebuah contoh sederhana tentang bagaimana orang-orang yang secara definitif sudah memenuhi kriteria kebebasan finansial, memenuhi kebutuhan dan gaya hidup tanpa harus bekerja, dengan menggunakan passive income-nya, namun mereka tidak pernah benar-benar merdeka / bahagia. Bagaimana bisa punya kemerdekaan finansial dan kemerdekaan hidup kalau hidup penuh fear?

 

Ada yang bilang, bahwa hidup harus sederhana karena roda berputar. Ada saat nya di atas, ada saat nya di bawah, maka dari itu, kita harus siap-siap untuk posisi kita ketika roda di bawah.

 

Buat saya… hidup memang naik dan turun, namun turunnya ke depan akan lebih tinggi daripada turunnya

yang dulu, seperti grafik saham yang sedang uptrend. Nggak seperti roda sepeda :)

 

Dalam hidup ini, you get what you expect. I always expect great things will happen to me.

 

Financial & life freedom bukan karena takut akan masa depan, namun karena hidup kita fulfilled dengan love, time, and happiness.

 

Jadi… apa yang sebaiknya kita lakukan untuk benar-benar mencapai kebebasan finansial, dan kebebasan hidup? Bagaimana mengatasi insecurity?

 

Insecurity timbul karena kesadaran bahwa ada kebutuhan dalam diri kita yang tidak terpenuhi.

Kebutuhan apa? Kebutuhan kita bukan hanya kebutuhan fisik, namun kebutuhan jiwa dan roh.

Apa yang terlihat dan dilakukan oleh tubuh kita, merupakan pancaran dari apa yang ada di dalam roh dan jiwa kita. Men sana in corpore sano. Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa dan roh yang sehat.

Apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh roh dan jiwa kita?

Roh kita, membutuhkan kekuatan secara spiritual. Kebutuhan rohani yang terpenuhi akan membawa rasa tenang dan sekaligus memberi energi yang luar biasa. Di jaman modern ini, hal-hal yang bersifat spiritual dan religi seringkali dianggap sebagai sebuah kisah fiktif. Meski demikian, aktivitas meditasi dan juga olahraga yang bersifat menenangkan seperti yoga, mulai populer saat ini.

 

Jiwa kita, membutuhkan connection dan perasaan dicintai dan juga kebutuhan untuk bertumbuh dan berkontribusi. Oleh karena itu, hubungan sosial dengan pasangan, keluarga, dan teman-teman terdekat, bisa membuat kebutuhan jiwa menjadi lebih terpenuhi.

 

Ketika kebutuhan roh dan jiwa terpenuhi, maka kita akan semakin mudah untuk bahagia, growing with purpose, dan memberikan kontribusi untuk society dalam bekerja, dan berbisnis. Bekerja dengan purpose, uang pun mengikuti, dengan fulfillment in life.

 

Ketika kita menggenggam tangan kita erat2 untuk berhemat ketat, maka tangan kita pun tidak bisa terbuka untuk menerima hal baru. Ketika kebutuhan tubuh, jiwa dan roh kita terpenuhi, maka kita akan lebih mudah membuka tangan dan belajar memberi. Membuka tangan artinya kita juga belajar untuk menerima, karena kita merasa secure dan merasa nyaman.

 

When you open those hands you feel generous. When you feel generous, you feel powerful. And when you feel powerful, the world is attracted to you.

Ketika kebutuhan tubuh, jiwa dan roh kita terpenuhi, kita merasa ringan dan bebas untuk melakukan apa pun yang disuka, tanpa harus terikat dengan uang. Kita tidak terikat dengan uang.

 

Money is not the master, but we are the master of the money.

Kita hemat, namun tidak pelit. Kita menikmati hidup dengan uang yang kita miliki, tau caranya having fun, namun ia tidak overspending. Kita terus bertumbuh, namun bukan hanya uang yang menjadi alasan kita untuk berkembang. Kita bebas memilih gaya hidup, liburan di resort mewah bisa, back packer-an juga enjoy. Mau makan di restoran termahal dengan orang-orang kaya bisa, dan makan di rumah makan sederhana pun tetap nyaman.

Bebas finansial sejati, artinya bebas bahagia, di mana pun dan kapan pun.

Kebebasan finansial tidak sekedar mendapatkan uang lebih baik secara aktif maupun pasif, namun bagaimana kita mengelola uang dan mendapatkan kepenuhan sejati dalam hidup.

 

It is important for us to be content but not complacent. Artinya, kita merasa diri kita fulfilled, namun

tidak mudah puas diri, terus belajar dan berkembang. Orang yang tidak content akan selalu merasa dirinya kurang. Orang yang complacent akan mudah puas diri, sehingga tidak memiliki semangat hidup.

Financial freedom is not just about making money and create passive income, but about living our life to the fullest, growing with purpose, create value for others, bring impact and happiness to ourselves first, then to the people we love, and to the people that we don’t know.

To have the real financial freedom means to change our financial mindset and attitude, to see things differently, from having a “financial freedom” misery to really being happily financially free.

  

 

“The best things in life are free. The second best things are very, very expensive” Coco Chanel

 

Financial Freedom is, the  freedom to grow with purpose, #BEYONDMONEY !

 

 

 

 

 

 

 

  



Mau jadi Super Trader di saham Indonesia?