Ellen May Institute

Blog By
Ellen May

Beli Saham Berapa Banyak

Written by: Ellen May | Updated At: 2019-09-16 20:37:57

Beli jual saham sama persis, hasilnya beda-beda. Kenapa?

Di sebuah kafe, Budi nampak asik mendengar penuturan Ahmad yang sukses berjual beli di pasar saham. Konon, Ahmad seringkali mendapat banyak uang tambahan dari beli dan jual saham. Tidak dipungkiri, sesekali Ahmad memang mengalami kerugian. Namun secara keseluruhan, Ahmad bisa menuturkan bahwa ia bisa menghasilkan keuntungan secara konsisten selama beberapa tahun.

 

Tidak butuh waktu lama buat Ahmad untuk meyakinkan Budi agar ia mau mengikuti jejaknya dalam berivestasi saham. Budi pun segera membuka rekening saham pertamanya di sebuah sekuritas. Sekuritas yang sama dengan Ahmad, dengan biaya komisi brokerage dan juga pajak yang sama persis!

 

Pertanyaan berikutnya pun muncul buat Budi, yaitu, saham apa yang mau dibeli? Beli di harga berapa? Jualnya kapan?

 

Karena tidak mau pusing, Budi pun ambil langkah praktis, dan berniat mengikuti persis apa yang dilakukan Ahmad. Ahmad tidak keberatan. Jadi, setiap kali Ahmad beli sebuah saham, ia akan mengajak Budi. Demikian pula ketika ia menjual sahamnya. Sama persis!

 

Kadang-kadang Ahmad untung, kadang-kadang Ahmad rugi. Kalau dihitung-hitung setelah jalan setahun, Ahmad benar 50% dari keseluruhan jumlah transaksi. Dari 50% frekuensi beli sahamnya yang untung itu, Ahmad berhasil menuai keuntungan sekitar 10% dari hasil investasinya. Dan setiap kali mengalami kerugian, dari 50% frekuensi rugi, Ahmad harus membatasi kerugian rata-rata 5% dari nominal yang ia gunakan untuk membeli saham tersebut.

 

Jadi, seperti halnya Ahmad, Budi pun memiliki rasio untung dan rugi yang sama persis dengan Ahmad.

 

Ketika Ahmad santai-santai saja, dan tetap enjoy dengan investasinya, Budi mulai gelisah. Ada apa gerangan?

 

Budi melihat jumlah uang yang ada di rekening sahamnya semakin menipis. Sebaliknya, rekening saham Ahmad justru bertambah. Budi menjadi skeptic dan tidak percaya pada kemampuan Ahmad.

Bahkan… Budi sempat hampir marah karena merasa “ditipu” Ahmad. Namun setelah dicek… kok ternyata memang benar, Ahmad untung, Ahmad nggak nipu.

 

Jadi, apa yang membedakan keduanya? Apa yang menyebabkan Budi merugi dan Ahmad untung?

Segitu penting kah peran strategi risk & money management? Setiap kali membeli saham, haruskah kita menggunakan nominal yang sama?

Bagaimana cara menambah dan mengurangi porsi beli?

Download FREE EBook selengkapnya dengan klik tombol di bawah ini!




Mau jadi Super Trader di saham Indonesia?