Ellen May Institute

Hidup Tanpa Dasi

Written by: Wuddy Warsono, CFA

Belum lama, saya mendapatkan undangan ke satu acara formal. Dress code-nya pun mengikuti: formal. Artinya saya diharapkan mengenakan jas dan dasi. Kalau jas masih OK buat saya. Tapi bayangan memakai dasi membuat saya kepikiran. Bahkan kepikirannya terjadi sejak beberapa hari sebelum acara. Gelisah.

Bagi saya, dasi sangat tidak nyaman dipakai. Rasanya persis kena choke di Brazilian Jiu Jitsu (BJJ) atau Mixed Martial Arts (MMA). Hanya saja tidak ada pilihan nge-tap sebagai sinyal “Saya menyerah, Terima kasih saya telah belajar sesuatu hari ini”.

(Sebagai tambahan informasi, di BJJ tidak ada istilah menang atau kalah, yang ada adalah ... you either win or you learn).

Saking gelisahnya membayangkan memakai dasi, saya berusaha menunda memikirkan dasi mana yang nantinya harus dipakai. Dasi yang cocok dengan jas, pakaian, dan celana saya. Perasaannya persis seperti malas membayangkan ke dokter gigi. Nanti saja dipikirkan pada waktunya, saat nama kita dipanggil asisten dokter gigi dengan senyuman lebarnya.

Akhirnya menit-menit di mana saya harus mengenakan dasi telah tiba. Benar-benar last minute. Saya buka lemari pakaian untuk memilih dari koleksi dasi yang memang tidak banyak. Tetapi saya justru terkejut mendapati dasi yang hilang entah ke mana. Saya coba telpon istri dan anak yang sedang hiking di Gunung Ijen, Jawa Timur. Tidak diangkat. Mungkin karena mereka sedang melakukan digital detox. Atau karena sinyal telepon tidak melimpah di daerah pegunungan.

Panik mulai melanda. Waktu terlalu mepet. Mau pinjam dasi ke tetangga yang fotografer perlente kok malu. Nanti dipikir saya nggak bonafide karena tidak punya dasi. Tapi ya bagaimana lagi, tidak ada pilihan...

Saat hendak melangkah ke tetangga, ada panggilan masuk di HP. Telpon dari istri. Lega. Ternyata dasi tidak hilang melainkan disimpan oleh putri saya. Umur putri saya 11 tahun dan sedang suka-sukanya Marie Kondo, pengarang buku “The Life-Changing Magic of Tidying Up” dari Jepang yang telah mendunia untuk urusan decluterring dan minimalism. Ide dasar Marie Kondo sangat sederhana: kita isi rumah hanya dengan barang-barang yang membawa sukacita, yang “spark joy”. Barang lain, yang tidak membawa sukacita, silakan minggir. Ide sederhana tapi membawa dampak luar biasa ke seluruh dunia.

Berkat putri saya, lemari pakaian menjadi tidak cluttered dan hidup saya menjadi lebih menyenangkan. Di pagi hari, energi tidak harus dihabiskan untuk memilih satu baju dari puluhan alternatif, cukup dari 10 pilihan yang “spark joy”. Bukankah bandwith kita terbatas dan sayang kalau dihabiskan untuk memilih baju?

Balik ke dasi, ternyata putri saya yang sedang terinspirasi Marie Kondo mengambil inisiatif untuk menaruh semua koleksi dasi saya ke satu kotak yang dia tandai sebagai “Stuff that do not spark joy. Give to others? Ask Papa”.

Ia tahu persis, beberapa tahun terakhir saya hampir tidak pernah mengenakan dasi. Tahu persis kalau dasi membuat saya stres. Logikanya masuk akal, jauhkan dari saya sesuai dengan prinsip minimalism.

Masih jelas di ingatan, bagaimana pekerjaan saya sebelumnya di sebuah investment bank menuntut untuk mengenakan dasi dan jas. Makanya ketika ada ide jenius di era Presiden SBY untuk memperlakukan dan menerima penuh pakaian batik sebagai sama resminya dengan jas dan dasi, saya senang sekali.

Pemakaian dasi saya di Jakarta langsung turun drastis, persis grafik saham yang lagi limit down.

Hanya saja, untuk situasi resmi, seperti misalnya roadshow bersama emiten ke para fund manager di Amerika Serikat, jas dan dasi tetap menjadi pakaian standar di tempat saya bekerja.

Di tahun 2015 saya melakukan “jump”, yaitu akhirnya mengikuti suara hati untuk memasuki babak baru mengejar impian, Baru ketika ini terwujud, masalah dasi ini bisa dianggap hampir tuntas. Walaupun saya masih sering bertemu dengan mantan klien fund manager manca negara yang sedang berkunjung ke Jakarta, hubungan telah berubah menjadi murni pertemanan dan dasi sudah bisa saya pensiunkan. Digantikan batik, bahkan pakaian semi-casual.

Sejujurnya, saya tidak selalu anti-dasi. Bahkan sebaliknya, di awal karier dulu di Citibank, salah satu motivasi utama berkerja di bank asing tersebut adalah karena saya sangat menginginkan pekerjaan yang dresscode untuk pria adalah minimal pakai dasi. Syukur kalau harus pakai jas. Tapi minimum harus pakai dasi.

Mengapa saya ingin sekali pekerjaan berdasi? Karena sewaktu saya kuliah di Surabaya, lokasi kampus berdekatan dengan kantor Citibank di kota tersebut. Tiap kali lewat kantor Citibank, saya melihat karyawan prianya memakai dasi. Keren dan perlente. Kebetulan waktu kuliah, untuk bisa membiayai kuliah, saya bekerja sabagai salesman tinta cetak. Ke mana-mana naik motor, di bawah terik matahari Surabaya membawa kaleng yang isinya contoh tinta cetak. Kontras dengan style pegawai Citibank yang terlihat keren dengan dasi, dan kerja di ruang ber-AC pula.

Makanya, sewaktu tahap interview akhir di Citibank setelah lulus kuliah, saya sempat ditanya apakah ada pertanyaan mengenai Citibank. Salah satu pertanyaan saya adalah apakah di Citibank dresscode-nya memang memakai dasi. Untung pertanyaan naif ini dimaafkan dan saya mulai bekerja di Citibank minggu berikutnya. Setelah beli dasi untuk pertama kali, tentunya.

Kenyataannya adalah untuk pekerjaan pertama seusai kuliah, motivasi utama saya adalah supaya bisa pakai dasi. Ini saya pakai ke mana-mana, bahkan waktu makan siang di warung dekat Citibank. Saking bangga dan senangnya pakai dasi.

Banyak hal-hal yang dulu di awal karier begitu penting, sekarang saya tidak lagi peduli. Dasi salah satunya. Juga main kartu dan clubbing bersama teman-teman, award-award yang menandai pencapaian prestasi, dan berada di sekitar orang-orang terkenal supaya dianggap orang penting.

Sekarang semua tidak lagi penting.

Hal-hal yang saya enjoy sekarang seiring dengan usia: yoga dan kickboxingintermitten fasting, jalan di alam terbuka, waktu bersama keluarga, dan waktu untuk membaca- menulis dan merenung seorang diri (solitude).

Kita berubah tanpa menyadarinya. Dan masih akan terus berubah lagi ke depannya.

Apa yang penting bagi saya di usia 20-an, ketika baru lulus kuliah, adalah mengejar karier. Mengggebu-gebu untuk menjadi orang yang “berhasil”. Dikasih tanda kutip karena definisi berhasil bagi saya dalam fase ini lebih ke materi. Buku-buku motivasi, apalagi kalau menjanjikan yang instan-instan, yang nge-gas, menjadi bacaan wajib. Fokus utama adalah keberhasilan karier dan perbaikan status sosial.

Seperti halnya burung dalam sangkar yang dilepas ke alam bebas, berjuta harapan dan impian memenuhi kepala saya di awal karier.

Waktupun berjalan. Prestasi demi prestasi diraih, baik finansial maupun pengakuan sosial dari lingkungan sekitar kita. Keliling dunia, bertemu fund manager celebrity yang dulunya cuma bisa saya kenal melalui buku-bukunya. Orang-orang yang baru memulai kariernya suka berdekatan dengan kita, karena kita sudah menjadi orang terkenal di bidangnya. Pengaruh kita semakin besar di lingkungan. Paling tidak, seperti itu dalam bayangan kita. Benar atau tidak... itu tidak penting. Pokoknya senang, gembira, dan bangga jadi satu.

Model investasi di awal karier juga maunya nge-gas terus. Adrenalin dipompa, sehingga segala keluhan mengenai kesehatan tidak lagi dirasakan. Karena sinyal dari tubuh yang sedang protes terabaikan. Kalah kencang dengan aliran adrenalin, yang lebih seru dan lebih mendapatkan perhatian.

Prestasi dan jam kerja panjang saya mulai membuahkan prestasi. Yang reward-nya, anehnya, adalah jam kerja yang justru makin panjang. Sampai suatu ketika saya mulai terasa ada yang hilang, yang nggak pas. Tiba-tiba dasi mulai terasa sebagai choke, bukan lagi prestige.

Saya sadar itulah waktunya untuk melakukan lompatan atau “jump” untuk lebih bisa hidup di masa kini, atau “living in the moment”. Bukan di rat race-nya Robert Kiyosaki, bukan di angan-angan masa depan, dan bukan pula di jebakan masa lalu. Alhasil empat setengah tahun yang lalu saya memutuskan untuk melakukan jump. Pindah ke kuadran entrepreneurship dari kuadran profesional. Supaya lebih aware dengan lingkungan saya. Dan supaya tidak diwajibkan lagi pakai dasi.

Tentu fase peralihan ini tidak mudah. Sampai hari ini pun saya masih belajar, dan saya mau proses peralihan ini bertahap, sesuai dengan ritme sendiri. Saya mulai bisa menikmati buku-buku seperti “The Things You Can See Only When You Slow Down” karya Haemin Sumin, Zen master muda asal Korea Selatan yang lulusan Berkeley, Harvard, dan Princeton itu. Dari judul bukunya saja ketahuan isinya apa. Kalau 4,5 tahun yang lalu, saya akan membaca buku semacam ini ketika susah tidur dan ingin tidur. Kalau sekarang, saya mending tidak tidur daripada berhenti membaca buku ini di tengah jalan.

Model investasi saya juga berubah. Tidak lagi suka adrenalin yang nge-gas. Sekarang lebih suka cari saham-saham yang sedang diabaikan oleh investor. Mungkin karena popularitas passive fund dan aturan Mifid 2 membatasi kemampuan dan kemauan broker-broker untuk cover saham papan 2 dan papan 3. Padahal banyak di antara mereka yang sangat menjanjikan. Misalnya dari segi cash flow dan kemampuan membayar dividen. Salah satu telpon dari stock broker yang paling saya sukai adalah berita bahwa saya menerima dividen dari saham A, B, C di portofolio.

Itulah hebatnya pasar saham. Akomodatif untuk segala macam tipe investor dan style investasi.

Tulisan ini bukan ajakan untuk membuat lompatan dan keluar dari pekerjaan kita. Semua ada waktunya, dan jalan hidup orang berbeda-beda. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kita hidup di era di mana semua orang mau hidup mengerjakan sesuatu yang berarti buat mereka. Era di mana semua orang diajari untuk mengikuti suara hati dan passion kita. Terus problemnya di mana?

Problemnya adalah pasar yang paling kompetitif di dunia adalah pasar passion, pasar “doing what you love”. Mau jadi barista kopi, mau jadi DJ, mau jadi penulis, misalnya, semuanya cool. Tapi super kompetitif karena kita akan bersaing dengan begitu banyak orang yang telah menanggalkan dasinya untuk mengikuti passion-nya. Dan pesaing tidak akan segan-segan bekerja 24/7, bukan sekedar 7/11 untuk merealisasikan mimpinya. Perlu etos kerja yang luar biasa untuk sukses. Semua yang pindah ke kuadran entrepreneurship tahu bahwa “waktu untuk entrepreneur itu super fleksibel” adalah mitos belaka. Realitasnya adalah entrepreneur dituntut untuk tidak mengenal waktu dalam bekerja.

Tidak ada yang salah dengan berdasi maupun tidak berdasi. Semuanya hanyalah fase dalam hidup. Juga sama sekali tidak ada salahnya kalau kita tidak pernah merasakan dasi sebagai sesuatu yang mencekik. Yang penting adalah bagaimana kita membangun skill yang oleh Cal Newport di bukunya So Good They Can’t Ignore You disebut sebagai langka (rare) dan berharga (valuable). Dan skill yang oleh sang legenda marketing Seth Godin di bukunya Purple Cow, disebut sebagai remarkable. Saya akan coba tulis lebih dalam mengenai hal ini di blog post saya berikutnya.

Yang juga tidak kalah penting adalah kita tidak perlu menunggu untuk sukses secara karier untuk bahagia. Karena kebahagiaan datang dari dalam, bukan dari apa yang kita capai.

Pada akhirnya, orang yang berbahagia adalah pemenang sesungguhnya. Berdasi ataupun tidak.


Mau buka akun saham atau mau beli reksadana terbaik di Indonesia?